Kamis, 30 Agustus 2012

Munas IX ORARI di Jakarta Tingkatkan Jumlah IOTA

Munas IX ORARI di Jakarta Tingkatkan Jumlah IOTA

Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI) diharapkan semakin peduli terhadap kepentingan masyarakat dan meningkatkan jumlah Island On The Air (IOTA). Harapan ini disampaikan oleh beberapa tokoh ORARI yang hadir dalam acara Pembukaan Musyawarah Nasional IX ORARI pada 20 Oktober 2011 lalu di Balairung Susilo Sudarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta.
Munas ORARI tahun 2011 yang mengangkat tema, “Tingkatkan Kualitas dan Pengabdian Amatir Radio Indonesia” ini, selain dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, juga dihadiri banyak pengurus ORARI pusat maupun daerah. Di antaranya hadir Ketua Umum ORARI Sutiyoso, Wakil Ketua Umum ORARI IGK Manila dan Sekjen ORARI Suryo Susilo.
Muhammad Budi Setiawan yang mewakili Menteri Komunikasi dan Informasi RI Tifatul Sembiring saat membacakan sambutan, mengharapkan kepada pengurus ORARI agar dapat menyusun program kerja yang bermanfaat untuk masyarakat informasi. Antara lain dapat meningkatkan etika tanggap darurat dalam bencana dan meningkatkan jumlah Island On The Air (IOTA), yaitu penyuaraan pulau-pulau terdepan kepada dunia sebagai batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Ketua Umum ORARI Sutiyoso YB0ST, Amatir Radio yang Berjiwa Patriot sudah menghasilkan 32 pulau terdepan yang terregistrasi melalui kegiatan IOTA. Jumlah itu merupakan bagian dari 92 pulau terdepan wilayah NKRI sesuai PP nomor 78 tahun 2005. Kecuali itu, ada lagi 40 pulau lainnya yang juga terregistrasi, sebagai kontribusi 32 ORARI daerah /provinsi dan 382 ORARI lokal kabupaten dan kota.
Ditambahkan mantan Gubernur DKI Jakarta ini, ORARI sekarang semakin peduli kepada masyarakat, terutama dalam kondisi bencana. ORARI juga meningkatkan kerja sama dengan Menkominfo, Kementrian Sosial, Palang Merah Indonesia (PMI) maupun Basarnas.
Pembukaan Munas juga menggelar pemberian penghargaan Nugraha Kelas I dan Kelas II bagi para anggota ORARI yang memberikan sumbangsih dan pengabdian untuk Organisasi Amatir Radio. Dalam kesempatan ini, Sekjen ORARI Suryo Susilo membacakan 22 nama anggota yang mendapatkan Nugraha ORARI Kelas I dan Kelas II. Di antaranya adalah Pemimpin Perusahaan Majalah Gemari Drs TP Suparta, MBA, YBOKVN yang menerima penghargaan Nugraha ORARI Kelas II. Para penerima penghargaan ini diberikan langsung oleh Dirjen Budi Setiawan didampingi Wakil Gubernur Prijanto, Ketua Umum ORARI Sutiyoso dan Wakil Ketua Umum ORARI IGK Manila.
Munas ke-IX juga menyusun program kerja dan pemilihan pengurus baru masa bakti 2011-2016. Selanjutnya, sebanyak 150 peserta mengikuti Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) dan Musyawarah Nasional (Munas) ORARI di Singosari Room Hotel Grand Sahid Jakarta 22-23 Oktober 2011. Seiring dengan Munas ini juga diselenggarakan All Indonesia HAM Festival 2011 untuk memperebutkan Piala Bergilir Menkominfo yang penyelenggaraan festival ini dilakukan di Lapangan IRTI Monas Jakarta, 22-23 Oktober 2011.

Laporan Uji Coba Muatan Satelit LAPAN ORARI

Laporan Uji Coba Muatan Satelit LAPAN ORARI















 

Pada hari ini Sabtu tgl 26 Maret 2011 jam 10:00 s.d 14:00 WIB telah dilakukan uji coba dan konfigurasi terhadap muatan / payload satelit Lapan ORARI.

Kami menempuh perjalanan selama � 2 jam dari Jakarta untuk tiba di Kantor Pusat Teknologi Satelit, LAPAN Rancabungur, Bogor Jawa Barat pada pukul 9 pagi.

Bp.Wahyudi Hasbi YD1PRY selaku Chief Engineer Satelit LAPAN A2 dan LAPAN ORARI menyambut kami dengan senyumnya yang ramah dan langsung membawa kami menuju ruang kerjanya di Laboratorium Pusteksat tempat pembuatan Satelit LAPAN A2 dan Satelit LAPAN A3 yang lebih dikenal dengan nama Satelit LAPAN ORARI.

Sambil menunggu kehadiran rekan-rekan lainnya dari team engineer Satelit LAPAN A2 dan Satelit LAPAN ORARI (Bp.Ichsan YD�RH, Bp.Dedi, dll) kami diajak melihat lihat kotak pembawa satelit yang pernah digunakan untuk membawa Satelit LAPAN TUBSAT yang sudah berada diorbit sejak tgl 10 Januari 2007.

Beliau menjelaskan mengenai fungsi dari kotak pembawa satelit yang masih dibuat dan di impor langsung dari Jerman tersebut dan rencananya kotak tersebut akan digunakan kembali untuk membawa Satelit Lapan A2 atau Satelit Lapan A3.

Setelah asyik mendengarkan penjelasan dan mengambil beberapa gambar kotak pembawa satelit tersebut kami diajak masuk menuju ruangan kerja beliau dan tidak lama kemudian Bp.Ichsan YD�RH, dkk tiba diruang kerja pak Hasbi.

Pembicaraan diawali dengan menanyakan tentang rencana peluncuran kedua Satelit kembar tersebut, dan dijawab oleh beliau jadual masih tetap seperti semula yaitu kuartal ketiga tahun 2011.

Dengan tidak membuang-buang waktu, pak Hasbi langsung mengajak kami menuju ruangan steril dimana tempat Satelit LAPAN A2 dan LAPAN ORARI ini dibuat.

Kami diingatkan akan perlunya kehati-hatian dengan tidak sembarang memegang komponen-komponen kedua satelit kembar tersebut yang tergeletak diatas meja kerja seluas � 3x4 meter.

Hati-hati,kalau mau pegang harus digrounding dulu badan kita supaya komponennya tidak kena static, begitu seru beliau.

Kelengkapan komponen LAPAN A2 dan LAPAN ORARI sudah mencapai � 75 % dan hanya tinggal menunggu beberapa komponen lainnya yang saat ini masih dalam proses pembuatan.

Persiapan uji coba diawali dengan menyalakan power supply yang digunakan sebagai catu daya sementara (pengganti solar panel dan rechargeable battery) Satelit LAPAN ORARI.

Tidak lama setelah setelah semua fungsi dihidupkan terdengar suara pancaran packet data dari Telemetry Satelit LAPAN ORARI di salah satu frekuensi yang akan digunakan oleh Ground Station untuk mengontrol Satelit ini dikemudian hari jika sudah berada di orbitnya.

OM Yono YD�NXX langsung duduk didepan notebook computer yang telah disediakan sebelumnya dan disimulasikan sebagai ground station. Beliau langsung membuka serta memeriksa isi konfigurasi modem digipeater aprs.

Parameter pertama yang perlu diperiksa dan diisikan tentunya adalah callsign dari Satelit LAPAN ORARI, dan sebagaimana IAR Khusus yang diajukan ke Ditjen SDPPI Kemkominfo, callsign untuk Satelit LAPAN ORARI adalah YB�X, dimana suffix X diartikan sebagai kegiatan Experimental.

Kemudian konfigurasi dilanjutkan dengan memasukan beberapa parameter lainnya seperti PATH, DIGI ID, TX Delay, Beacon Interval dan lain-lain.

Setelah konfigurasi selesai maka tibalah saatnya untuk melakukan uji coba fungsi APRS Digipeater.

Sebuah HT yang dibeli OM Yono YD�NXX lebih kurang 1� tahun lalu saat beliau masih bekerja di Texas, USA, Kenwood TH-D7A digunakan sebagai station pengguna yang diibaratkan akan memancar dari bumi dan akan menggunakan APRS Digipeater YB�X-1.

Sedangkan saya Wisnu YB�AZ, OM Dirgantara YE�EEE dan OM Dedi (LAPAN) mempersiapkan station monitor untuk memeriksa apakah fungsi APRS Digipeater tersebut berfungsi dengan baik sementara OM Djoko YB�CRT dan OM Ichsan YD�RH masing-masing memegang Handy Tranceiver untuk mendengarkan suara beacon dari YB�X-1.

Uji coba dimulai, packet pertama dipancarkan dari HT TH-D7A dengan PATH uplink YBSAT ( YB Satelitte / Indonesian Amateur Radio Satellite ), namun APRS Digipeater Satelit LAPAN ORARI tidak berhasil men-digi-nya.

Kami penasaran dan ulangi beberapa kali pancaran dari HT TH-D7A dan tetap tidak ada respon,lalu kami berdiskusi untuk mencari permasalahannya dan kemudian mencoba dengan konfigurasi PATH yang lain. Kali ini dengan PATH WIDE dan berhasil didigi oleh YB�X-1.

Namun, YBSAT adalah PATH yang harus bisa diaktifkan sebagaimana yang diinginkan.
Setelah beberapa kali uji coba transmisi dan tetap belum menemukan masalahnya, saya mengusulkan untuk re-flashing firmware APRS modem karena dari pengalaman kami sebagai user APRS terkadang firmware APRS modem pernah mengalami masalah dan perlu di re-flash agar berfungsi sebagaimana mestinya.

Supaya aman dan tidak mengganggu yang lainnya proses re-flashing modem APRS kami lakukan dengan terlebih dulu melepaskan Modem APRS dari rangkaian komponen Satelit LAPAN ORARI.

Setelah firmware selesai direflash saatnya untuk uji coba lagi, dan kali ini kita memanfaatkan Handy Tranceiver Alinco milik LAPAN, dan ternyata hasilnya memuaskan fungsi APRS Digipeater dengan PATH YBSAT berfungsi sebagaimana yang diharapkan.

Namun untuk memastikan semuanya kami melakukan pengukuran dengan Oscilloscope untuk menguji sinyal AFSK APRS Digipeater Modem Satelit LAPAN ORARI.

Setelah semuanya OK, modem APRS kembali kami integrasikan kedalam rangkaian Satelit LAPAN ORARI dan kali ini adalah saat untuk mencoba apakah fungsi APRS Digipeater ini dapat berfungsi dengan baik. Setelah beberapa puluh packet data berhasil didigi oleh YB�X-1 kami berkesimpulan bahwa APRS Digipeater telah berfungsi dengan baik.

Uji coba dilanjutkan dengan menguji muatan kedua dari Satelit LAPAN ORARI yaitu FM Voice Repeater yang akan bekerja pada Band Frekuensi VHF (Uplink) dan UHF (Downlink).

Kali ini HT Yaesu VX-8R OM Hasbi YD1PRY dan HT Yaesu VX-6R saya digunakan / disimulasikan sebagai user FM Voice Repeater Satelit LAPAN ORARI.

Pancaran suara dari OM Hasbi YD1PRY terdengar dengan jelas di frekuensi downlink satelit, namun kami mengeluhkan mengenai sedikit lemahnya audio gain dan terlalu panjangnya tx tail dari transmiter FM Voice Repeater ini.

OM Ichsan YD�RH, OM Yono YD�NXX, OM Djoko YB�CRT, OM Dirgantara YE�EEE turut mencoba komunikasi via FM Voice Repeater ini.

Ya, kesimpulannya, perlu diset kembali audio gain dan tx-tailnya.

Karena terlalu asyiknya bermain dengan kegiatan uji coba muatan Satelit LAPAN ORARI ini, tidak terasa waktu sudah lewat tengah hari dan akhirnya kegiatan uji coba kali ini kita akhiri sampai disini dulu.

Jadual selanjutnya, adalah pengujian komponen satelit yang akan diterbangkan dengan pesawat terbang atau helicopter pada akhir bulan April 2011 dan pengujian payload satelit LAPAN ORARI pasca integrasi / sebelum pengemasan serta pengiriman ke tempat peluncuran satelit di Sriharikota Satellite Launching Center India.

Demikian, laporan singkat mengenai kegiatan uji coba muatan Satelit LAPAN ORARI pada hari Sabtu 26 Maret 2011 ini, semoga dapat bermanfaat dan menambah informasi mengenai perkembangan pembuatan Satelit LAPAN ORARI untuk Amatir Radio di Indonesia.

Jumat, 23 Desember 2011

ORARI

PERSONAL HOMEPAGE
ORARI LOKAL
KAYUAGUNG









www.dxzone.com
Amateur Radio Search Engine
Created & Design by Ozzy

Selasa, 16 Agustus 2011

GATEWAY

GATEWAY e10.25 JZ 06 CDK MUTAWALLI

e1025 RAPI Streaming e1025 RAPI NUSANTARA


Jumat, 22 Juli 2011

SEKILAS TERBENTUKNYA ORARI
Terbentuknya Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia

Pada tahun 1925, Prof. Dr. Ir. Komans-Netherland dan Dr. Ir. De Groot-Batavia, berhasil melakukan komunikasi radio dengan menggunakan stasiun relay di Malabar. Kejadian ini kemudian diikuti dengan berdirinya Batavia Radio Vereniging dan NIROM.

Pada tahun 1930 yaitu pada masa pemerintahan Hindia Belanda (Nederland Indies) amatir radio di Indonesia telah membentuk organisasi yang menamakan dirinya NIVERA (Nederland Indische Vereniging Radio Amateur) yang merupakan organisasi amatir radio pertama di Indonesia dengan beranggotakan karyawan dan tehnisi PTT. Berdirinya organisasi ini disahkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada periode antara tahun-tahun 1933 s.d 1943, PK2MN seorang anggota bumiputera NIVERA mendirikan Solosche Radio Vereniging yang disusul oleh anggota bumiputera NIVERA lainnya dengan mendirikan organisasi sejenis seperti MARVO, CIRVO, VORO, VORL dan lainnya. DI tahun 1937 lahirlah Persatoean Perikatan Radio Ketimoeran (PPRK).

Tercatat pula beberapa nama perintis kegiatan amatir radio di Indonesia di antaranya:


Rubin Kain, dengan callsign terakhir YB1KW, mendapat lisensi pertama kali tahun 1932, dan meninggal (silent key) di tahun 1981,


B. Zulkarnaen, dengan callsign terakhir YBØAU, mendapat lisensi pertama kali tahun 1933, dan meninggal di tahun 1984.

Pada masa penjajahan Jepang, tidak banyak catatan kegiatan amatir radio yang dapat dihimpun. Kegiatan ini dilarang oleh pemerintah jajahan Jepang namun banyak di antaranya yang melakukan kegiatannya di bawah tanah dalam upaya mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Di tahun 1945 tercatat seorang amatir radio, Gunawan-YBØBD, yang memancarkan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan menggunakan perangkat pemancar radio revolusioner yang sederhana dan merupakan buatan sendiri. Layanan ini sangat dihargai Pemerintah Indonesia sedangkan radio milik YBØBD tersebut merupakan peralatan yang tidak ternilai harganya bagi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Pada akhir tahun 1945 sudah ada sebuah organisasi yang menamakan dirinya PRAI (Persatoean Radio Amatir Indonesia). Dan pada periode tahun 1945 s.d 1949 banyak para amatir radio muda yang membuat sendiri perangkat radio transceiver yang dipakai untuk berkomunikasi antara P.Jawa dan P.Sumatera dimana Pemerintah Sementara Republik Indonesia berada. Di antara tahun 1945 dan tahun 1950 amatir radio juga banyak berperan sebagai Radio Laskar.

Di akhir bulan Desember 1949, saat penyerahan kedaulatan dari Pemerintah Belanda kepada Republik Indonesia Serikat, semua kegiatan-kegiatan dihentikan dan dibubarkan. Pada periode tahun 1950 s.d 1952 amatir radio Indonesia membentuk PARI (Persatuan Amatir Radio Indonesia). Namun di tahun 1952, karena memandang situasi di tanah air tidak memungkinkan, maka Pemerintah Indonesia mengeluarkan ketentuan bahwa selain pemancar radio milik pemerintah dilarang mengudara dan bagi stasiun yang melanggar dikenakan sanksi subversif. Kegiatan amatir radio terpaksa dibekukan pada kurun waktu antara tahun 1952-1965. Pembekuan tersebut diperkuat dengan UU No.5 tahun 1964 yang mengenakan sanksi terhadap mereka yang memiliki radio pemancar tanpa seijin fihak yang berwenang. Namun di tahun 1966 antusias amatir radio untuk mulai mengudara kembali tidak dapat dibendung lagi.

Di tahun 1966, tepatnya tanggal 14 Februari - 26 Februari 1966, mengudara radio Ampera yang merupakan sarana perjuangan Kesatuan-kesatuan Aksi dalam perjuangan orde baru. Muncul pula berbagai stasiun radio laskar ampera dan stasiun radio lainnya yang melakukan kegiatan komunikasi dan broadcast. Stasiun-stasiun radio tersebut menamakan dirinya sebagai radio amatir.

Pada periode tahun 1966-1967, di berbagai daerah terbentuklah organisasi-organisasi amatir radio seperti: PARD (Persatuan Amatir Radio Djakarta), PARB (Persatuan Amatir Radio Bandung), PARJ (Persatuan Amatir Radio Jogjakarta).

Khusus mengenai perkembangan organisasi amatir radio di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) dapat dicatat disini bahwa di tahun 1966 dibentuk PRAJOGJA (Persatuan Radio Amatir Jogjakarta) yang anggotanya cenderung mengadakan layanan broadcast. Tercatat nama Bambang Dewa Bagus-YB2KX yang lebih banyak berkecimpung dalam bidang broadcast telah memulai kegiatannya sejak tahun 1961 mengetuai PRAJOGJA saat didirikan. Pada tanggal 14 Juli 1967 dibentuklah PARI (Persatuan Amatir Radio Indonesia) diketuai Aris Munandar-PK2JA. Pada tanggal 19 Agustus 1967 dibentuk PARJ (Persatuan Amatir Radio Jogjakarta) diketuai Aris Munandar, yang merupakan upaya penggabungan PRAJOGJA dengan PARI. Tanggal 10 Februari 1968 diadakan musyawarah amatir radio se Jateng/DIY di Semarang sebagai hasilnya dibentuk PRAI (Persatuan Radio Amatir Indonesia).

Di tahun 1967,Ketua Dewan Telekomunikasi Republik Indonesia, Dr. Rubiono Kertopati, memanggil amatir radio Indonesia untuk mendapatkan masukan guna merumuskan Peraturan Pemerintah (PP) tentang kegiatan amatir radio di Indonesia. Pada tanggal 30 Desember 1967 dikeluarkan PP No.21 tahun 1967 tentang Radio Amatirisme di Indonesia (Lembaran Negara No.35 tahun 1967, Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara No.2843 tahun 1967).

Tanggal 9 Juli 1968, berdirilah ORARI (Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia) yang pelaksanaan teknis dan administratifnya dijalankan sesuai dengan Surat Keputusan DETELRI (Dewan Telekomunikasi RI) No.004/1968. Pada tanggal itu juga AD/ART ORARI disahkan oleh DETELRI. Selanjutnya tanggal 9 Juli 1968 dinyatakan sebagai Hari lahir ORARI dan Hari amatir radio Indonesia. ORARI Pusat diketuai oleh Marsekal Muda(Marsda) Suwondo-YBØAT. Pada tanggal 8 dan 9 Juli 1975, dilaksanakan kongres ORARI ke II di Jakarta, dan pada hari Rabu tanggal 9 Juli 1975 Kongres mengesahkan AD/ART dengan perubahan nama ORARI (Organisasi Amatir Radio Indonesia). AD/ART ini disahkan DETELRI dengan Surat Keputusan No.020/KPTS/DETEL/RA/1979 tanggal 21 April 1979. Pada tanggal 5 s.d 7 Februari 1982 berlangsung Munas ORARI ke III di Jakarta. Munas ORARI yang terakhir diselenggarakan adalah Munas ke VII yang terselenggara pada tanggal 12 s.d 15 Oktober 2001 di Serpong, Tangerang, Banten. Dalam Munas ke VII tersebut, terpilih sebagai Ketua Umum untuk masa bhakti 2001-2006 adalah MayJen (Purn) H. Harsono-YBØPHM.
Terbentuknya orari boleh dikata berawal di Jakarta dan Jawa Barat atau pulau Jawa pada umumnya dan diprakarsai oleh kegiatan aksi mahasiwa , pelajar dan kaum muda, diawal tahun 1965 sekelompok mahasiwa publistik yang tergabung dalam wadah KAMI membentuk radio siaran perjuangan bernama Radio Ampera, mulai saat itu juga bermunculanlah radio siaran lainya seperti Radio Fakultas Tehnik UI, Radio Angkatan Muda, Kayu Manis, Draba dll. Sudah tentu semua radio siaran itu merupakan siaran yang tak memiliki izin alias Radio gelap. Sadar karena semakin banyaknya radio siaran bermunculan yang memerlukan suatu koordinasi demi tercapainya perjuangan ORBA maka dibentuklah pada tahun 1966 oleh para mahasiwa suatu wadah yang diberi nama PARD (Persatuan Radio Amatir Djakarta) di antaranya terdapat nama-nama koordinatornya seperti Willy A Karamoy. Ismet Hadad, Rusdi Saleh ……dll. Dan di Bandung terbentuk PARB. Bagi anggota yang hanya berminat dalam bidang teknik wajib menempuh ujian tehnik dan bagi kelompok radio siaran disamping perlu adanya tehnisi yang telah di uji juga wajib menempuh ujian tehnik siaran dan publisistik. Setelah itu kesemuanya diberi callsign menggunakan prefix X, kode area 1 s/d 11 dan suffix 2 huruf sedangkan huruf suffix pertamanya mengidentifikasikan tingkat keterampilannya A s/d F seperti X6AM, X11CB dsb sedangkan untuk radio siaran diberi suffix 3 huruf.Pada mulanya PARD merupakan wadah bagi para amatir radio dan sekaligus radio siaran . Sehingga pada saat itu secara salah masyarakat mengidentikan Radio amatir sebagai radio siaran non RRI. Karena adanya Tingkatan keterampilan, PARD saat itu juga menyelenggarakan ujian kenaikan tingkat.

Disamping itu terdapat juga para Amatir era 1945-1952 yang tergabung dalam PARI (Persatoean Amatir Repoeblik Indonesia 1950), di antaranya terdapat nama - nama , Soehodo †. (YBØAB), Dick Tamimi †. (YBØAC), Soehindrio (YBØAD), Agus Amanto † (YBØAE), B. Zulkarnaen †. (YBØAU), Koentojo † (YBØAV) dll. Diantara mereka ternyata ada juga yang menjadi anggota PARD seperti, (YBØAE) dan (YBØAU).

ORARI Nasional

Atas dasar PP21/1967 pada tanggal 9 Juli 1968 dilingkungan Sekretariat Negara pada waktu itu dan tanpa kesibukan yang menonjol dengan dihadiri sejumlah calon anggota yang berdomisili terutama di pulau Jawa, terbentuklah ORARI dan praktis pada awalnya hanya mencakup pulau Jawa yang terdiri atas 4 Regio yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketua ORARI Nasional dijabat oleh Bapak Koentoyo † (YBØAV). Dengan terbentuknya Wadah yang sah ini maka, para Amatir merasa lega karena bisa secara sah melakukan kegiatannya. Tenaga penguji di Dewan Telkom saat itu sangat terbatas dan hanya diperuntukan untuk menguji calon Operator dan Markonis radio maka, Dewan belum mungkin menyelenggarakan ujian untuk calon anggota ORARI dan untuk kebutuhan ini ORARI diberi wewenang sementara untuk menyelenggarakan sendiri ujian Amatir bagi calon anggotanya. Dan untuk mengurus keperluan perizinan seluruh anggota ORARI telah ditunjuk wakil tetap ORARI di Dewan Telekomunikasi RI. Yakni Herry Sembel (YBØBR) dan Hasan Koesoema (YBØAH).
Dengan terbentuknya ORARI maka terjadilah masa transisi dalam meletakkan istilah Amatir pada tempatnya, terutama dimasyarakat dan bahkan banyak di antara pengurus terutama di daerah masih mengidentikan kegiatan Amatir radio dengan Radio siaran non RRI. Hal ini terlihat dengan adanya radio-radio siaran dan badan-badan usaha yang melegalitaskan kegiatan siaran/ komunikasi usahanya dengan merekrut anggotanya menjadi anggota ORARI. Untuk mempersingkat masa transisi ini dan mencegah jangan adalagi suatu badan radio siaran atau badan lainnya mengajukan permohonan menjadi anggota ORARI maka pada Bulan Februari 1969 Bapak Koentoyo selaku Sekretaris Dewan Telekom menugaskan Bapak Engkus selaku staff Dewan Telekom dan Hasan Koesoema selaku wakil tetap ORARI di Dewan Telekom untuk memberikan pengarahan pada pembina dan pengurus ORARI di Jawa tengah dan Jawa Timur. Dari hasil pengarahan dan pengamatan ternyata Jawa tengah Bapak Imam Poerwito selaku Kahubad Kodam Diponegoro dan selaku ketua ORARI sudah sejak awal membuat langkah - langkah antisipasi sepert melakukan screening calon anggota dengan ketat melalui ujian dan ini dibuktikan dengan terdominasinya kegiatan ORARI Semarang oleh anggota-anggotanya yang melakukan kegiatan amatir tulen, seperti pemancar rakitan sendiri kegiatan QSO sebagainya. Namun di jawa timur baru setelah diberikan pengarahan pembina ORARI Bapak Tewel baru menyadari akan pandangannya yang keliru tentang kegiatan amatir radio


KENWOOD TM-271A Programming

tm-271a display
Display TM-271A

Kenwood TM-271A selain dapat diprogram melalui tombol yang berada di Panel bagian depan juga dapat di program dengan bantuan Software MCP-1A.

RIB yang dipakai untuk radio ini cukup menggunakan 2 transistor saja, seperti yang pernah saya posting sebelumnya... :)

RIB TM-271A KENWOOD

Seperti biasa, pertama kali tentukan default Port nya :

Port Select

Kemudian lalukan perintah Read, jika tidak menemukan masalah... maka pada layar akan tampil pop-up Read dengan progress bar hingga komplit 100%

Read Progress

Seperti pada menu programming software lain.. tentunya disediakan beberapa menu untuk merubah paramaeter yang ada seperti Frequency, Tone, Power Output dan lain"..

Setting Freq etc

Untuk menyelesaikan seluruh perubahan / pengaturan dan menyimpannya kedalam memory radio... tinggal klik Write>> Selesai.



REPEATER LINK CONTROLLER

Diagram block berikut adalah merupakan repeater standart/basic yang ditambahkan dengan sebuah radio "TRX" (Transceiver).
Dimana Transceiver ini berfungsi sebagai Radio Link/penghubung dengan repeater lain agar jarak komunikasi dapat semakin terjangkau..

Pada umumnya TRX ini bekerja pada mode Duplex, meskipun dengan mode Simplex juga sering dijumpai (tergantung kebutuhan dan konfigurasinya sih... :-) )

Diagram Block,Repeater Link,Controller,COR
Block Diagram

Schematic,Repeater Link,Controller,COR
Wiring Repeater Link c/w simple dtmf rc

Gambar diatas, adalah pengkabelan secara lengkap konfigurasi repeater link yang terdiri dari Receiver (input) Transmitter (output) Transceiver (input/output) dan dtmf remote control serta COR Repeater Link.

Layout,PCB,COR,Repeater,Link,Controller
PCB COR Repeater Link test-1

Simulasi/pengetesan COR Repeater Link pada kondisi TRX menerima signal, kemudian memberikan perintah Transmit kepada TX.


Layout,PCB,COR,Repeater,Link,Controller
PCB COR Repeater Link test-2

Simulasi/pengetesan COR Repeater Link pada kondisi RX menerima signal, kemudian memberikan perintah Transmit kepada TX dan TRX.

Gambar schematic dan pcb untuk saat ini masih belum selaras dalam penulisan urutan labelingnya, tapi jika Anda tertarik ingin memiliki gambarnya silahkan tinggalkan email di komentar.

SIMPLEST RIB For PUXING SUICOM WEIERWEI

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933 bagi yang merayakannya... khususnya buat rekan se-hobby YB0AA - OM IGK Manila, YB9BOB - OM W.Pande Sudirta SH, YC9CT - OM I Made Jhon Tony dan kawan FB-ku sekaligus teman di aktifitas... Adi Nana Doank... :)
Selagi liburan dan banyak waktu senggang... lagi-lagi saya tambahkan posting yang sama dan mudah-mudahan tidak membosankan..

Karena setelah berhasil memprogram radio HT dan Rig dengan RIB yang sangat sederhana itu saya tertarik untuk mencobanya ke radio lain seperti SUICOM dan WEIERWEI.
Pada awalnya muncul error... naum setelah diteliti secara bertahap.. ternyata stereo plug mengalami short circuit, kemungkinan akibat saya kikir salah satu sisinya agar dapat masuk ke Radio HYT... tahu sendiri kan jarak antar plug (female) terlalu dekat.

RIB PCB
PCB Simplest RIB

WEIERWEI
HT SUICOM WEIERWEI

Select language
Open Program

Untuk pemrograman SUICOM dan WEIERWEI biasanya saya pilih PX777/328 CH128+2Tone.

Reading_jpg
Proses pembacaan codeplug

Writing_jpg
Proses penulisan codeplug

SIMPLE RIB SUICOM
Schematic Simplest RIB For SUICOM PUXING WEIERWEI


HOMEBREW REPEATER With GM338

Artikel ini sama dengan artikel sebelumnya tentang pembuatan repeater sendiri, hanya transceivers.nya saja yang membedakan.
Di postingan kali ini radio yang dipergunakan masih dari keluarga Motorola dengan model / tipe yang lebih muda/tergolong masih baru.
Sementara COR yang saya pakai versi#3 (TOT dan Release TOT), Antena mempergunakan Diamond F-23H.
Untuk men-setting frequency dan lainnya memakai software CPS R06.09.06, sedangkan Radio Interfacenya tetap memakai RIB yang sebelumnya saya pakai untuk radio HYT, SUICOM, WEIERWEI di postingan yang lalu.

GM338 Repeater Homebrew
tampak semrawut....

GM338 Display
tampak depan GM338

Acc Conection Plan
ACC Connector GM338

pada radio GM338, Accessories connector.nya memiliki 20 pin, tidak seperti pada GM300 atau GM3188. Meskipun jumlah pin.nya 20, namun connector dengan pin 16 tetap masih dapat dipergunakan. sehingga jika connector tersebut dihubungkan, maka akan terlihat sisa connector pada sisi sebelah kiri dan kanan .... tidak "ketemu" .

Berikut adalah table penjelasan dari fungsi masing masing pin :

gm338 connector pin function page1
gm338 connector pin function page2

screenshot
Snapshot : Setting Frequency dll.

Ini dia Simplest Radio Interface GM338 :
RIB GM 338


Simplest RIB For MOTOROLA Mag OnE A8

Video capture pemrograman/setting frequency, tone, power dan lainnya seperti berikut ini adalah menggunakan Radio Interface yang sama seperti pada artikel sebelumnya ketika saya berhasil mencoba untuk radio produk HYT TC-500 dan HYT TC-700.

Yang membedakan adalah konfigurasi pin-out pada Stereo plug, untuk TXD dan RXD serta GND saja (terpisah). Pada Motorola Mag One A8, stereo plug yang dipergunakan menggunakan ukuran 2,5mm atau kalau kita lihat pada penutupnya (karet penutup) disana jelas terlihat symbol Microphone.
Sedangkan jika kita mengacu pada schematic original dari buku service manualnya tertulis 3,5mm (salah) atau sengaja ya..?? lihat gambar schematic paling bawah..!



Read progres menu_jpg

Configuration menu_jpg


Schematic Simple RIB Mag One A8_jpg

Programming Cable PMDN4043_R
Schematic (asli) diambil dari Service Manual